Posted by: pikir | July 22, 2007

Gelap tak beriak


 

Dus, Aceh dan Medan mati lampu lagi. Dan kita kembali ke jaman awal Masehi, malam gelap, tak terang dan berlilin. Tak nampak ada modernisasi infrastruktur energi diranah ini. Marah, kesal, ataupun Cuma bersabar, itulah yang kita rasakan dan yang kita aplikasikan ketika mati lampu.

 

Mungkin kita perlu berdoa kepada Tuhan supaya dilahirkan di dunia ini James watt- james watt baru. James watt yang mampu menciptakan penemuan termutakhir tentang penerangan dan sumber daya listrik lain namun tidak dengan metode pelistrikan seperti yang ada sekarang. Tapi dengan metode baru.

 

Listrik yang setiap bulan setelah pemakaian dan dikonsumsi diharuskan kepada konsumen yang mencicipinya untuk membayar jasa kepada PLN (Perusahaan Listrik Negara), dan jika terlambat dibayar, dikenakan denda. Itu kewajiban kita, kita ingat itu, dan kita bayar. Kita tak lupa dan kita patuh.

 

Listrik, dalam kehidupan modern ini merupakan kebutuhan bagi kita, mungkin sudah boleh dibilang sudah menjadi kebutuhan primer. Digunakan jasanya untuk penerangan rumah, toko-toko kecil, supermarket, hotel, pabrik, perusahaan dan Pengusaha mikro. Tidak curang, kita membayar untuk mendapatkan jasa penerangan tersebut.

 

Tapi yang faktual adalah ketika mati lampu, siapa yang diuntungkan? Tak tahu. Mungkin hanya jangrik yang senang, mereka menyaringkan suaranya sebagai tanda senang atau bernyanyi, namun bisa jadi sebaliknya mereka “Unhappy”, ribut mereka mungkin saja pertanda protes juga kepada PLN.

 

Berapa banyak perputaran uang yang mampet dan tidak maksimal yang sebenarnya yang diharapkan ketika pelistrikan mati. Atau malah tak bersiklus ketika listrik mati.

 

Kita pantas protes, kita patut. Infrastruktur energi yang yang diberikan Pemerintah untuk penerangan kepada masyarakat seharusnya semakin di tumbuhkan dan dimaksimalkan untuk kebutuhan segala aspek, segala sektor kehidupan Rakyat. Kita butuh penerangan yang utama dan professional kinerjanya bagi konsumen.

 

Kita bertransaksi jual dan beli penerangan kepada PLN. Tapi kita tak bertransaksi Hak disini, tak ada pengagungan hak konsumen ketika listrik padam. Padahal ketika listrik padam, resiko barang elektronik menjadi rusak karena padam hidup menjadi tinggi. Roda perekonomian di malam hari dipastikan merugi dan terganggu dengan berbanding lurus. Tapi klaim kepada PLN karena hilangnya kesempatan berusaha dan mendapatkan penghasilan dan kerugian lainnya ketika adanya “pematian” listrik, tak bisa dibalas atau diminta ganti rugi. Tak ada pemotongan biaya atau diskon sebagai pengakuan bahwa mereka telah membuat kerugian potensial maupun kerugian riil.

 

 

Miris melihat keadaan ini, betapa banyak Murid, Siswa, Mahasiswa yang tidak bisa belajar karena listrik mati. Memakai lilin tentu saja bisa, namun dengan resiko sakit mata, dalam jangka panjang, ini merupakan suatu masalah, rabun, dan harus memakai alat bantu dikemudian hari, dan sebagainya adalah sebuah efek. Atau malah listrik padam disaat besok mereka ada ujian, dan mereka gagal ujian karena tak belajar atau karena tidak bisa mengulang materi dengan maksimal.

 

Secara keseluruhan PLN sebagai pelaksana dan Pemerintah sebagai pengelola BUMN sebaiknya tobat dan malu kepada rakyat. Perbaikan fasilitas dan infrastruktur serta pertumbuhan dan perkembangannya yang sangat dinanti seperti masih jauh dari ekspektasi. Keseriusan dan Implementasi yang nyata, itu yang harus diusahakan. Bukan hanya mempublikasikan data-data bahwa yang rusak ini atau itu, sambil berharap rakyat maklum.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: