Posted by: pikir | June 17, 2007

Manusia yang membenci takut

 

                         

 

 Kira-kira jam 11.00  WIB 04.07.2007, adik saya mengirim pesan pendek “ bang jemput aku lah, aku udah pulang sekolah ni”., kenapa cepat sekali pulang sekolahnya,pikirku. Ada apa dek, kok cepet sekali pulang sekolahnya ?” tanyaku di sms, kemudian dia jawab lagi” air laut naik bang”. “air laut naik bang”, nah dengan jawaban begitu, aku makin bingung, apa hubungannya air laut naik sama  cepat pulang sekolah.

 

Sambil nyetir, masih saja aku mikir sebenarnya, kok cepat pulang sih dek?, ah daripada bingung, ku hidupin aja radio dimobil, mana tahu ada lagu bagus pikirku.  Dari radio itulah, baru saya tahu apa sebenarnya hubungan  pulang sekolah cepat dengan maksud dari kata “air laut naik

 Rupanya di desa kaju, di satu desa di kabupaten aceh besar, dinyalakan sirene/alarm pertanda  tsunami kepada masyarakat (aku nggak tahu bagaimana persisnya, tapi seperti itulah).  Wah jelas saja masyarakat jadi ketakutan pikirku, peristiwa tsunami kan pernah menjadi sejarah trauma yang besar bagi masyarakat aceh.

 

Sewaktu berhenti di lampu merah, aku melihat banyak mobil dan motor-motor ngebut dan mengarah ke wilayah yang lebih tinggi. Waduh, padahal diradio sudah ada informasi, bahwa sebenarnya alarm itu hanya kesalahan teknis, bahkan kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) pun sudah meminta maaf di radio akan hal tersebut.

 

Tapi yang jadi pertanyaan adalah, berapa banyak masyarakat yang mendengar konfirmasi dari kepala BMG itu , sehingga masyarakat tidak menjadi panik lagi, meskipun radio lokal adalah media tercepat penginformasiannya pada waktu kejadian tersebut, tetap saja  radio hanya satu media informasi yang tidak menjangkau semua frekuensi dan tidak pula bagi semua masyarakat. semuanya itu, seperti sudah terlambat disaat manusia sudah panik. Masyarakat benar-benar ketakutan pada saat itu, semua manusia yang kupandangi waktu itu terlihat gugup, panik, gelisah dan sangat ketakutan.

 

Pada saat itu jalan-jalan terlihat penuh sesak, jalanan menjadi macet (padahal Banda Aceh tidak pernah semacet itu  jika dalam keadaan normal), hampir semua orang-orang berlarian menuju kearah yang lebih tinggi, mobil-mobil dan motor-motor hampir semuanya tancap gas ke arah ‘gunung”.

 

Akupun berpikir, beginilah manusia itu, manusia menolak untuk tetap dalam ketakutan, sehingga manusia mencari solusi untuk menyelesaikan masalah ketakutannya tersebut.

Mereka berlarian tidak karena takut mati, tapi karena benci untuk takut mati.

Sehingga mereka mencari tempat, dimana ketakutan akan mati itu hilang.

                                                                                                                   

Manusia memang benci untuk merasa ketakutan..

 

 



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: