Posted by: pikir | June 3, 2007

Membaca dan nasi lemak

 Membaca dan nasi lemak

 

Sebuah pengalaman

Baru dua tahun ini, saya sadar bahwa membaca itu perlu-saya sadar itu sudah sedikit terlambat sebenarnya-, dimulai sejak saya baca sampai habis buku nya Abdul hamid ghazali, al ihya nya yang terjemahannya Bapak Ismail yakub. Sebelumnya saya benar-benar tidak suka membaca, kecuali komik.

Saya benar-benar kagum sama buku itu (sampai sekarang pun, saya masih kagum) dan al ihya benar-benar buku yang berjasa untuk saya sehingga saya menjadi benar-benar menjadi suka membaca sekarang.

 

Dimulai dengan Al ihya, mulailah kemudian saya kupas baca itu sendirian (walaupun banyak orang bilang, baca buku sendiri sama kayak belajar sama setan, tapi saya abaikan filosofi yang seperti itu, doktrin seperti ini menurut saya hanya akan menahan orang untuk menjadi luas pengetahuannya) saya nikmati buku-buku tafsirnya Pak Hamka, terjemahan Alquran versi Departemen agama dan yang lainnya, buku fiqh nya Sayid sabiq, fadhilah nya maulana zakariya, kitab hadist, buku-buku filsafat sampai bukunya Musdah mulia, Budhy munawarrahman dan artikel-artikelnya JIL.

 

Saya adalah mahasiswa manajemen dan bukan mahasiswa IAIN dan tidak juga pernah sekolah di pasantren,( dan saya rasa ilmu-ilmu tersebut bukan hanya monopoli atau milik mereka saja.  Peace ya..hehe ) namun awal minat baca saya malah timbul dibidang keilmuan ini- saya menikmati petualangan pemikiran diantara berbagai dan macam pemahaman dan penafsiran Islam itu-. Berawal dari situ lah akhir nya saya sadar akan nikmatnya Ilmu-ilmu itu, gurih nya teks-teks itu, dan begitu berharganya professor-professor itu untuk  kita acuhkan.

 

Sejak saat itu hampir tidak ada buku yang saya tolak untuk membacanya (kecuali buku itu memang buku jelek mutunya, atau yang bukan merupakan minat saya), setiap paragraf yang sudah saya baca, bagi saya itu seperti sesuap nasi lemak yang mengenyangkan bagi otak saya, enak sekali.

 

Yang menarik bagi saya adalah, setiap kali setelah selesai membaca satu paragraf dari sebuah teks, berubahlah pemahaman saya akan dunia ini, saya merasa seperti berada dalam dunia yang lain yang berbeda dengan dunia sebelum saya membaca sebuah paragraf tersebut. Alghazali, Ibnu Rusyd, Hamka, Karen amstrong, Huntington, Freud, Kotler, Levit, Mowen, dan Ulil Abshar sudah benar-benar mengubah pandangan saya terhadap dunia.

 

Kita yang sekarang tidak sama dengan kita yang kemarin, kita yang sekarang tidak sama dengan kita pada saat baru saja sudah membaca artikel ini, dan kita yang sekarang tidak sama dengan kita yang sudah pernah membaca artikel ini lima bulan yang lalu.

 

 

Membaca itu benar-benar membuat berbeda,

Tapi (tergantung bacaan anda),…. dan.tapi nikmati saja lah.. J

 

Pikir.wordpress.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: