Posted by: pikir | May 30, 2007

Me-marketing-kan aceh

Hampir setiap hari (atau malah setiap hari) kita melihat Pak Gubernur terlihat dimedia massa berwacana dalam mengungkapkan program dan bekerja dalam usahanya memajukan Daerah ini. Sangatlah menarik jika kita perhatikan dan meneliti terhadap segala upaya yang telah diusahakan pemimpin kita tersebut. Seperti salah satu usaha (program) beliau dalam “memproduksi” program Pemakmue Nanggroe, dan (menurut saya) program ini sungguh sangat mulia.

 

Dan disini terlihat kepekaan yang besar dan termasuk cepat untuk pemimpin yang baru terpilih kepada masyarakatnya (seperti kita tahu Irwandi bukanlah ilmuwan yang berlatar belakang disiplin Ekonomi, namun komitmennya terhadap sektor ini sungguh sangat patut untuk dihargai, semoga beliau benar-benar konsisten dengan komitmen dalam usahanya berkonsentrasi ke arah perekonomian rakyat). Masyarakat memang butuh terhadap figur pemimpin yang mengerti terhadap kesulitan masyarakatnya, masyarakat selalu dan akan terus untuk berharap implementasi yang jelas dan yang dapat mereka nikmati secara langsung dari para pemimpin yang menaungi mereka. Sangat berharap kita bahwa program yang mulia ini akan berproses dengan tersistem dan memang terarah dan jauh dari prilaku yang tidak terpuji dalam opersional pendistribusian nya.

 

Kebijakan publik = produk

Professor dari Harvard University mengatakan dalam buku terjemahannya dari Imagination of marketing, mengatakan;

“Tujuan Bisnis adalah menciptakan dan mempertahankan pelanggan”, dalam tujuan dalam mencapai dan mempertahankan pelanggan, kita juga sebaiknya mengetahui bahwa bisnis tidaklah ditujukan atau hanya pekerjaan untuk personal ataupun perusahaan saja, berbisnis selalulah meluas, hingga pun kepada pemerintah. Pemerintah bagi saya tak ada ubahnya dengan perusahaan (dari satu sudut pandang tentunya) yang berbeda hanyalah tujuan akhirnya, prosesnya tidaklah banyak berbeda kecuali dalam bentuk dan kelembagaan saja.

 

Secara singkat jika kita bicara tentang perusahaan, dalam pergerakan awalnya, setiap perusahaan berdiri untuk mensejahterakan ( atau meng-kaya-kan) pemilik modal karena mereka lah yang bercocok tanam kepada perusahaan dengan bibit nya yang berupa modal, arah selanjutnya adalah perusahaan menciptakan produk dan kemudian memasarkannya dengan harapan mendapat pengembalian berupa laba dari produk tersebut, jika hal ini berjalan lancar, berarti perusahaan produk sudah mempunyai pelanggan, dan konsumen-konsumen ini harus dipertahankan karena mereka punya nilai seumur hidup untuk  menjadi sumber pendapatan bagi perusahaan. Jika kita tilik dari sudut pandang marketing, semua evolusi , perusahaan dan setiap konstruksinya semuanya ditujukan untuk memperluas pasar, menggaet pelanggan dan tentu saja dari akibat itu, akan menghasilkan pertumbuhan perusahaan serta peningkatan kesejahteraan bagi para pemodal.

 

Dalam sudut pandang perusahaan, tujuan akhir perusahaan antara lain adalah menumbuhkan perusahaan dan meningkatkan kesejahteraan pemilik modal, namun di pemerintahan, sudut pandang ini kita ubah menjadi; untuk mensejahterakan masyarakat dan menjadikan daerah menuju pertumbuhan yang jelas. Yang lainnya adalah, perusahaan menciptakan produk berupa barang dan jasa, pemerintah menciptakan produk berupa kebijakan publik.

Produk yang diciptakan, haruslah produk yang indah, menarik, nikmat dan bermanfaat, jika suatu produk yang diciptakan tdaklah merupakan kebutuhan,melainkan hanya eksperimen dan keinginan perusahaan saja tanpa melihat kebutuhan pasar, produk itu pasti gagal.

 

Produk yang telah dihasilkan oleh Bapak Gubernur dalam programnya “pemakmue nanggroe” sangatlah tepat, namun itu harus disertai pengawasan dan controlling, serta distribusi yang benar, supaya tidak salah arah. Kita sangat berharap saluran distribusi program ini dapat dilakukan dengan cermat, karena dalam perusahaan, distribusi yang buruk pun akan produk yang bagus, akan membuat produk itu tidak bisa dikenali, apalagi dinikmati oleh masyarakat dan itu berarti perusahaan telah gagal dalam menguasai pasar, kegagalan untuk dapat bersaing dan menguasai pasar dan tidak mendapatkan hasil karenanya adalah sebuah cikal bakal perusahaan itu akan bangkrut (walaupun sebenarnya dia memiliki produk yang bermutu).

Dalam analoginya kepada pemerintahan, jika hal yang disebutkan di atas terjadi, kepercayaan masyarakat akan pemerintah akan terkikis (dalam pengertiannya yang mudah adalah pemerintah kehilangan pasar) .

 

Selain mengharap “produk” yang dikeluarkan pemerintah ini terdistribusikan dengan benar, inginlah kita supaya pemerintah menciptakan lini-lini produk yang baru, artinya pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru yang jenius seperti halnya program peumakmue nanggroe tersebut, yang tentu saja dengan tujuan untuk mensejahterakan masyarakat, apakah itu program kebijakan ekonomi kerakyatan lainnya, dan kebijakan yang lainnya seperti mensegerakan kemudahan bagi rakyat akan pendidikan yang murah dan berkualitas (kalau tidak mampu kita memenuhi standar berkualitas, paling kurang, yang tidak buruklah), pelayanan kesehatan yang terprioritaskan dengan tidak adanya diskriminasi dan tentu saja keamanan bagi masyarakat.

 

Suatu peradaban tidak akan pernah muncul dari wilayah yang carut-marut tanpa adanya realitas akan keamanan dan perasaan aman, kemudian suatu perekonomian serta peningkatan dan kemajuannya tidak akan pernah bisa dirasa jika stabilitas keamanan dan politik hanya sebatas mimpi. Saya rasa kita sudah banyak berpengalaman akan hal ini.

Kedamaian dan keamanan bagi masyarakat haruslah tetap dikelola dan diperluas eksistensinya oleh pemerintah sebagai manajer rakyat.

 

“pasar selalu butuh ruang yang aman”, begitu satu nasehat dari Gunawan Muhammad seorang tokoh pers senior kita, dalam satu catatan pinggirnya, nasehat ini haruslah selalu kita ingat dalam usaha mengembangkan dan membangun perekonomian kita, Awal perkembangan dan pertumbuhan  Ekonomi selalu membutuhkan syarat. Syarat makro dan utamanya adalah keamanan (keamanan yang benar-benar terefleksikan dalam kehidupan bermasyarakat), kita sudah menuju itu, walaupun masih perlu banyak perbaikan dan kesadaran. Oleh karena nya sangat berharap kita agar benar-benar keamanan itu menjadi salah satu kepribadian unggul dari diri kita. Investasi tidak akan datang pada wilayah yang tidak aman -atau daerah yang katanya aman, tapi sebenarnya tidak aman-dengan memakai rasional yang paling dangkal pun kita sudah tahu alasannya, yaitu karena investor takut rugi untuk menanamkan modalnya.-“siapa juga yang mau rugi” begitu kata anak gaul sekarang-, tentu saja semua menghindari resiko kerugian itu. Jangankan Investor asing, kita saja pun akan enggan untuk menanamkan modal didaerah dengan situasi yang tidak ada jaminan keamanannya. Malah-malahan Investor yang sudah ada pun, bisa saja pergi dan memindahkan operasi investasi nya dari daerah ini ke daerah lain, oleh karenanya konsep Professor Levit (dan ilmuwan pemasaran lainnya) mengenai menciptakan/mendapatkan dan mempertahankan pelanggan, harus sangat diperhatikan dan dijaga oleh pemerintah.

 

Investor yang mengintip

Jika hal-hal fundamental diatas bisa diimplementasikan oleh pemerintah secara serius (serius tapi santai pun tetap oke lah, asal tetap dalam kaidah kinerja yang menuju peningkatan)dan berhasil, kita cukup dengan mempromosikan daerah ini. Dan ini akan menjadi semacam “magnet” panarik, untuk Investor datang ke Aceh. jika faktor ini sudah mapan, pebisnis-pebisnis luar dan besar itu pasti ada saja akalnya untuk mengintip dan berpikir peluang apa yang bisa di Investasikan di sini,

Contohnya jika kita lihat saja SwissBell Hotel , mereka sangat pandai menangkap peluang bahwa berinvestasi di Aceh dapat menguntungkan, dengan Investasi dibidang perhotelan, mereka tentu saja sudah memperhitungkan butuhnya tamu-tamu domestik dan asing yang berdompet tebal akan sebuah Hotel yang berkualitas dan fasilitas terbaik ketika berkunjung, berwisata atau mempunyai keperluan di Aceh. Mereka membaca segmen ini dan mereka sukses.

 

Dan untuk selalu kita ingat adalah sebuah kebijakan selalu mempunyai efek, jika pendidikan, kesehatan keamanan-dan bantuan peumakmue nanggroe serta kebijakan ekonomi lainnya dapat berjalan efektif- dan bisa difokuskan serta ditingkatkan, pertumbuhan ekonomi berpeluang muncul dari sektor internal masyarakatnya sendiri melalui Usaha Kecil dan Menengah (UKM)-dan bahkan investasi besar pun bisa juga datang dari masyarakat Acehnya sendiri- sehingga perekonomian masyarakat akan berkorelasi menuju grafik kearah peningkatan, kalau sudah mencapai kondisi seperti ini, Investasi skala besar dari luar (seperti yang diharapkan oleh Pak Irwandi)  tinggal menunggu waktu saja untuk kita dapatkan, alasan bersikap positif ini adalah karena kita -sudah-punya sumber daya. Dan keinginan Bapak Irwandi untuk “menjamu” Investor supaya datang dan menanamkan Investasinya  ke Aceh, bukan hanya sekedar mimpi saja, tapi akan menjadi sebuah mimpi manis yang terealisasi.

 

Pencuri hati

Pemerintah adalah sama dengan perusahaan dari satu sudut sisi pandang. Pejabat pemerintahan adalah seorang manajer yang mengusahakan kesejahteraan bagi stake holder (pemegang saham) nya, dan stake holder dipemerintahan adalah masyarakat.. Manajemenlah dengan baik, semua kita tahu dunia kita ini bukan lah dunia yang “sim salabim abra kadabra”, kita hidup di dunia yang selalu butuh akan proses untuk mencapai hasil.

Berusaha lah untuk mencapai tujuan agar kesejahteraan masyarakat bisa tercapai, jika sudah tercapai lah hal yang seperti itu, berarti para pemimpin sudah mencuri hati kami sebagai rakyatnya, tercuri hati kami karena hati itu sudah mencintai anda.

Tentang mencuri-curi hati ini, teringatlah saya kepada satu lagu dangdut yang liriknya (kalau tidak salah) berbunyi seperti ini;

‘tum kau curi hatiku, hatikuuuu, kau mencuri hatikuuu..uuu”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: