Posted by: pikir | October 2, 2007

zarathustra sang penilai

baru-baru ni aku baru abis baca nietzshe,

otakku benar-benar fresh, zarathustra sama prelude nya..

aku seperti baru mengerti apa dunia..

Posted by: pikir | August 18, 2007

syaraf

syaraf

 

Aku duduk, merenung.

Diam saja, orang tak mendengar.

Akalku bersuara, ribut.

Cuman dikepala.

 

Menyenangkan juga.

Cuman bibir saja yang bersenyum.

Namun sekejap dengan kening mengerut.

Bermain-main dengan subjektivitas.

Bisa salah, bisa salah

Bisa benar, bisa benar

 

Posted by: pikir | July 22, 2007

Ada anak bertanya pada anaknya..


 

Kita memang harus banyak bertanya,

kalau kita tak bertanya lagi, itu ciri2 orang mati.

Orang mati tak pernah bertanya pada orang yang hidup.

Dukun katanya bisa, tapi penipu itu.

Atau tak menipu, tapi hanya imaginasi, atau sugesti.

 

Banyak yang harus kita tanyakan didunia ini.

Namun, ketika kita bertanya

Sering mereka itu mengatakan pertanyaanku bodoh atau

Tak pantas untuk ditanyakan. Dan mereka marah.

 

Sebenarnya mereka itu memang tak bisa menjawab atau apa..

 

Karena menurutku, tak ada pertanyaan yang bodoh.

Karena banyak pertanyaan lah,

Dunia akademis banyak spesialisasi ilmu.

Karena ada proses mencari ketahuan.

 

Karena pertanyaan selalu membutuhkan jawaban

Dan jawaban bisa ngaco, namun bisa juga rasional

Dan yang rasional bisa terbantahkan oleh teori baru.

 

Jawaban ngaco pun pengetahuan.

Ilmu ngaco namanya.

Kita belajar toleran dari kengacoan itu

Posted by: pikir | July 22, 2007

Jalur berdebat


 

Menulis membuatku lebih paham, bahwa menulis itu juga sebuah kepandaian. Dalam sebuah tulisan ada usaha pengeditan pribadi dari penulis itu sendiri, berpikir apakah tulisan itu baik atau tidak, pantas atau tidak, bisa menstimulus dan memprovokasi orang atau tidak, tergantung tujuannya, apa maunya.

 

Jadi yang diinginkan penulis dalam sebuah tulisan ada juga yang tak tertulis sebab hal tersebut. dan dalam penulisan itu. tulisan juga dipengaruhi oleh tata bahasa pasaran yang kita pakai sehari-hari yang bukan tata bahasa tulisan. Tulisan oleh penulisnya juga mempunyai konteks tersendiri, dan ketika tulisan dibaca oleh pembaca, pembaca pun mengkaitkan tulisan tesebut dengan konteks dunianya sendiri.

Kata orang penulis itu mempunyai konteks tersendiri, tulisan punyai dunianya sendiri, dan pembaca pun mengkonteks kannya dengan persepsi dan dunianya sendiri. Dari situ lah makanya terjadi perbedaan tafsir akan sebuah tulisan atau teks.

 

Yang hebatnya kan, di dunia kita ni, kita sering menyalahkan tafsir orang lain. merasa paling benar yang mungkin disebabkan perasaan dan kepercayaan diri tinggi bahwa aku yang paling pandai dan paling berhak menginterpretasikan secara tepat. Keegoisan.

 

Untuk mengetahui yang paling tepat, paling benar dan paling ideal itu sebenarnya bagaimana. Mungkin saja dengan paling-PALING. Sering kita liat perdebatan dan orang-orang berdebat , dan kita juga,  menyalahkan pendapat orang lain. padahal kan setiap pendapat mempunyai jalur pemikirannya sendiri. Ada yang jalur sempit, ada jalur bodoh, ada jalur pandai dikit, jalur tol, dan jalur rasional atau jalur tahyul. Yang pintar pernah berkata; tidak ada yang paling asyik, selain dunia yang penuh sesak dengan pemikiran. Mungkin kita hanya perlu toleran dan aku sedang mendidik diri sendiri dengan tulisan ini.

 

Posted by: pikir | July 22, 2007

Kebandelan fikir

Kebandelan fikir

 

Mendobrak batas-batas ideologi

Menabrak lingkaran pemikiran yang sudah mapan

Tanpa taklid, tidak patuh interpretasi resmi

 

Anarkis dalam pemikiran, kebandelan berpikir.

Pemikiran beda, memang tak selalu benar

Namun pemikiran ortodok pun tak berarti pasti benar.

 

Abang itu pernah berkata

Salah benar, itu urusan tuhan.

 

Posted by: pikir | July 22, 2007

Kegelisahan

Kegelisahan

belum lama ini aku nyelesaiin buku “cendikiawan dan politik”, terbitan LP3ES, disitu ada tulisan Hatta,, selo soemardjan,dorojatun dan banyak lagi. Aku tidak terlalu tahu banyak, hanya sedikit yang aku ketahui tentang orang-orang itu.  apa kontribusi yang telah mereka berikan kepada Indonesia dan dunia atau manusia. Tapi disitu aku melihat ada kegelisahan-kegelisahan mereka bahwa ada yang harus diberikan bagi mereka yang telah diberikan kesempatan untuk belajar. Intelektual itu mempunyai tanggung jawab.

Mungkin kita semua tahu tentang hal itu, tapi mungkin kita tidak sadar atau lupa untuk sadar bahwa ada yang harus diperbaiki di dunia ini. Dunia ini belum selesai sebagai dunia yang terimpikan, impian yang merupakan awal sebagai cita-cita untuk merealistiskan kesempurnaan atau nyaris sempurna.

Kegelisahan untuk menjadikan bangsa menjadi masyarakat yang mapan, sejahtera, berpendidikan dan nyaman secara psikologis dan fisikal.

Kita masih berada dunia yang dipenuhi orang-orang rakus kuasa, rakus jabatan, rakus uang. Perang, intrik, kebodohan, keserakahan, intimidasi dan tak bisa menghargai hak dan martabat, merupakan hal yang masih aktual dibumi ini. Patut tak gelisahkah kita?…

mungkin, tapi aku hanya terbawa semangat mereka.

Posted by: pikir | July 22, 2007

Kir-kir

Kir-kir

 

 

Pemikiran.. suatu yang mahal.

 

 

Posted by: pikir | July 22, 2007

Muak fanatisme


 

Aku bingung, mungkin marah.

Lebih cocok untuk dibilang muak.

Aku melihat banyak orang pintar memanfaatkan emosi orang banyak.

Meng-indoktrinisasikan rakyat terus.

Tentu saja untuk tujuan mereka.

 

Usaha pemandaian dari mereka malah minim.

Hanya pandai nyetting ego rakyat.

Menciptakan fanatisme, keekslusifan.

Sebual awal dari efek akhir yang bernama anarkis.

 

Aku marah, aku cuman menulis.

Aku merasa tak berbuat banyak.

Posted by: pikir | July 22, 2007

Pajak


 

Oek, oek, oek. Seorang anak baru lahir ke fana. Bapaknya bayar biaya rumah sakit.

Biaya rumah sakitpun ada pajaknya. Hebatkan, anak lahirpun harus bayar pajak, dia sumbang itu pajak ke Negara yang katanya untuk dia juga.

 

Lahir ternyata tak Cuma-Cuma, bayar. Pajak dikutip, pajak dikumpulkan ke Negara.

Namun apa yang diberikan kepada manusia itu, pedidikannya belum jelas, kesejahteraannya belum terjamin, belum pun hidup bayi itu kedepan. Popok ada pajaknya, rumah ada pajaknya, beli ini dan apa saja ada pajaknya.

 

Terberi apa rakyat, penguasa hanya sibuk kampanye, mengemis suara rakyat pada pemilu, lalu udah jadi, lupa rakyat, hanya ingat gaji, uang dan kekuasaan. Rakyat demo seperti dianggap suara kecil tak usah dipeningkan. Manusia yang mengemis terlihat dan mereka iba, sesudah itu mereka tak ingat ketika lapar dan dirumah makanan sudah gugah sisi manusiawi lapar.

 

Birokrasi masih sombong, persulit terus, kutip banyak terus, minta dihormati secara langsung atau harap sadar sajalah. Jajan kau dari duit kaminya, ingatlah pak. Duit makan anda harta alam wilayah kami wahai anda.

 

Dalam ilmu psikologi, ada teori lupa dan ingat; mungkin mereka ingat uang, tak ingat pajak.

 

 

 

Posted by: pikir | July 22, 2007

Suatu lembaga di kampungku.

Suatu lembaga di kampungku.

 

Revolusi cuman beberapa jam dari perjalanan waktu.

Segerombolan kaum yang mungkin tertuju.

Monopoli otak dengan doktrin.

Rakyat tujuan keracauan.

Mereka pendoktrin kebodohan

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.